OPINI - JIHAD FI SABILILLAH


OPINI JIHAD FI SABILILLAH 


Bulan Ramadhan di Surabaya Tahun ini, bukan disambut dengan mercon biasa tetapi dengan Bom yang dilakukan oleh teroris di 3 gereja pada ahad pagi, 13 Mei 2018. 3 gereja itu antara lain gereja kristen indonesia jalan diponegoro, gereja santa maria di ngagel dan gereja pantekosta di jalan arjuno. Semua teroris itu berasal dari keluarga muslim yang taat.
Sejak kejadian itu banyak yang mengganggap bahwa agama islam adalah agama teroris tetapi hal itu jelas salah karena agama islam memiliki banyak aliran yang mana ada aliran yang sesat. Aliran yang sesat itu mengiming-iming pengikutnya untuk melakukan jihad fi sabilillah, katanya.
Bidadari dan surga adalah hadiah bagi mereka yang mau berjihad di jalan Allah itulah iming-iming dari mereka. justru orang yang tergiur akan hadiah itu bukanlah dia yang tak punya agama akan tetapi dia yang hanya tahu sedikit tentang agama dan ingin masuk syurga. Memang bukan sepenuhnya dia yang salah karena dia masih belajar. Akan tetapi logika itu ada, segampang itukah masuk surga? Jika iya, mengapa semua kyai semua santri tidak melakukan pengeboman di gereja-gereja. Karena mereka tahu surga tak segampang itu.
Kajian-kajian islam kini banyak dilakukan guna mendoktrin muslim yang ingin belajar agama dengan praktis dan korban utama adalah pelajar baik siswa maupun mahasiswa. Dari kutipan status facebook salah seorang teman pelaku teroris di surabaya bahwa pelaku adalah seorang yang giat dalam belajar agama dia mengikuti berbagai kajian dan rohis di sma nya. Jelas kita tahu kini di universitas-universitas banyak rohis berdiri, banyak kajian-kajian islam dikampus dan bahkan kajian islam di kos. Kita sebagai mahasiswa tidak tahu apakah kajian itu benar atau salah, lurus atau sesat, akan tetapi kita harus mewaspadai hal itu.
 Alquran perlu di pahami sepenuhnya bukan hanya penggalan-penggalan ayat, hadits pun sama. Lalu bagaimana caranya agar kita tahu dan mudah memahami Alquran dan Hadist? Ya, dengan cara belajar ilmu agama dipondok pesantren. Karena ponpes kita diajarkan kitab kuning yang mana kitab itu sebagai pegangan atau pandangan kita untuk menafsirkan alquran dan hadits.
Teroris ada karena kesalahpahaman kita ketika menafsirkan jihad fi sabilillah. Sekarang kita hidup dizaman modern yang mana tak ada lagi perang seperti zaman rasulullah. Jihad fi sabilillah di sini adalah memerangi hawa nafsu bukan melakukan pengeboman di gereja-gereja karena sudah jelas di Alquran maupun hadist tidak ada ayat atau lafal yang mewajibkan atau menganjurkan muslim untuk melakukan pengeboman. Semua itu sesat.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment