PUISI INDONESIAKU – Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)


PUISI INDONESIAKU – Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)


INDONESIAKU, 1
Indonesiaku sangat kecil
Indonesia besar tak bisa menemukannya
Bahkan tak punya mata untuk menemukannya
Indonesiaku sangat sempit
Indonesia luas tau bahwa ia ada
Karena sibuk direpotkan oleh kekuasaannya
Indonesia kecilku betapa sangat luasnya
Alamatku tak kentara, kampungku tiada tara
Tuhanku rahasia, sujudku baka
Indonesia sempitku bergelimpang cahaya
Tak terbayangkan oleh yang tak mengalaminya
Diremehkan oleh saudara-saudaraku beratus juta
Yang bukan main sulitnya
Adalah bagaimana membuat putra-putriku meyakininya
Bahwa yang mereka melihat dan mendengarnya
Itu sama sekali bukan indonesia
Yang dilahirkan oleh kakek dan neneknya
Dengan nyawa dan air mata

INDONESIAKU, 2
Indonesiaku lahir tidak pada tahun empat lima
Ia lebih tua dari hellaspartena dan piramida
Ia jauh sebelum arca bertapa
Berada diluar lembaran-lembaran sejarah syak wasangka
Indonesiaku disembunyikan oleh mata dunia
Masa silamnya dipenggal dan masa depannya disandera
Dididik untuk jangan sampai pernah dewasa
Otak dan kelamin kelakiannya dikebiri semena-mena
Indonesiaku dibikin tak lagi percaya pada dirinya
Bahkan di ajari cara bertani dan menjalankan agama
Tapi Wa akidu kaida, merak berpuas puasan dalam salah sangka
Karena Indonesiaku yang ini bukan narapidana mereka

INDONESIAKU, 3
Karena Indonesiaku amat tua maka ia matang dan bijaksana
Yang muda-muda menginjak-injak seluruh permukaan dunia
Menggali bumi dan mencucup isinya dengan nafsu angkara murka
Indonesiaku tersenyum saja dan beratus tahun puasa kata dan kuasa
Kekuasaan dan penguasanya tak kan pergi kemana
Mereka kuasai dunia tanpa bisa berumah diluar dunia
Semua gelap ada terangnya, semua ruang ada waktunya
Segala kelaliman diawali tanpa bisa menghindari akhirnya
Sebentar lagi hari akan tiba
Para adigang adigung adiguna mengalami keruntuhannya
Indonesiaku menggeliat berdiri menyiapkan daya upaya
Tidak untuk membalaskan dendamnya
Melainkan memangku dunia

INDONESIAKU, 4
Indonesiaku tak punya negara
Bukan ia menolaknya
Melainkan sedang menapaki waktu lebih lama
Untuk mengambil keputusan hadir sebagai apa
Indonesiaku membangun rumah diatas tanah sejarahnya
Tidak terpikan dan terseret oleh para tetangganya
Indonesiaku menata dirinya dengan dan oleh dirinya
Tidak menyodorkan tangan untuk diborgol penjajahnya
Indonesiaku tak terpancing untuk berlari kencang
Mengejar mereka yang menuduhnya terbelakang
Indonesiaku lebih lama memahami perjalanan
Indonesiaku sangat mengerti asal-usul dan tujuan

INDONESIAKU, 5
Indah nian rupa penduduk Indonesiaku
Rata-rata sangat ganteng dan cantik-cantik
Kulitnya tidak terlalu gelap atau terang
Hidungnya tidak terlalu mancung atau pendek
Tinggi badannya pun tak terlalu tinggi atau rendah
Rumah dan lingkunganya tidak kumuh atau mewah
Kesejahteraan hidupnya tak kurang tak juga melimpah
Sebaik-baik perkataan adalah titik imbang ditengah-tengah
Lagak lakunya tak terlalu kanan tak terlalu kiri
Para peimpin tidak dijilat sampai sedia mati
Rakyat pun dibela tidak dengan membabi-buta
Sebab hakikat kebenaran adalah akar utamanya

INDONESIAKU, 6
Aku bertanya kepada indonesiaku
Apakah kau akan ikut pemilihan pemimpin?
Ia menjawab “Pasti. Dihari pemilihan aku akan datang
Membawa kertasku sendiri bertuliskan nama pilikanku”
Kukejar “Siapa orang nomer satu pilihanmu?”
“Tidak ada dalam daftar” jawabnya, “Karena punya harga diri
Pemimpin sejati memgang teguh sikap rendah hati
Oleh karena itu tak mungkin ia mencalonkan diri”
“Manusia yang punya nurani, yakni manusia yang manusia
Tidak memasang wajahnya di tepi-tepi jalan raya
Ia tak mau membeli ataupun dibeli
Meskipun kebanyakan rakyat
Memaafkan politik dagang sapi”

sumber : caknun.com
Previous
Next Post »
Thanks for your comment