SEBATAS TEMAN, HIDUP (CERPEN)



SEBATAS TEMAN, HIDUP


Pagi menjemput, nestapa senja telah sirna. Tetesan embun bergelayut di ujung daun sisa gerimis tadi malam. Selimut rindu telah ku buang bersama bungkusan cinta yang telah kulupa. Tapi satu hal yang tak pernah kulupa waktu itu...
“Jangan pernah kau cinta padaku dan jangan pernah kau buatku jatuh cinta karna ku tak mungkin cinta padamu” balasan pesannya yang buatku pupus harapan seketika.
“hahaha...mana mungkin aku jatuh cinta padamu, kita kan teman, temanku yang cewek gak cuma kamu fi” jawabku dengan sombong padahal hati ini menahan luka yang dalam.
Aku mulai sadar bahwa dia hanya menganggapku sebagai teman padahal selama ini ku menganggapnya lebih dari teman.
“apa yang kau rasakan selama ini? kemesraaan ini, apa tak ada cinta yang tumbuh?”batinku.
Kegalauan melandaku membuatku tak fokus dalam berkuliah bahkan semua wanita yang berbincang denganku terlihat seperti dia dan terkadang temanku ku panggil namanya
“fi”. Dari semua itu kumulai mencoba menganggapnya sebagi teman hanya sebatas teman. Sejak itu aku mendapatkan satu pemikiran bahwa cinta itu salah, cinta itu rugi, cinta itu..selalu negatif.
Hari berjalan dengan biasa terkadang fifi ku sapa dan dia balik sapa dan ku ingat lagi bahwa kita hanya sebatas teman. Kegiatan kuliah yang selalu ku ikuti membuatku kenal dengan banyak cewek lagi membuatnya semakin aneh, entah apa yang dia pikirkan ketika aku dekat dengan wanita lain. Terkadang dia cuek dan acuh ketika memandang dan berbincang denganku tapi selalu menanyakanku ketika ku tak di sampingnya. Ku semakin bingung dengan hubungan kita. Kulakukan rencana agar dia berani mengungkapkan apa yang dia rasa langsung di depanku.
“fi, apa kamu yakin bahwa kamu tak punya rasa denganku, jika kamu gak ada rasa denganku,katakan itu dengan cara menatap mataku” tantangku.
“aku memang gak suka kamu, kita Cuma sebatas teman” jawabnya menghindari mataku
“jawab fi dengan cara tatap mataku” tapi sebelum menjawabnaya itu dia pergi meninggalkanku begitu saja.
Sejak itu setiap kali berpas-pasan dia selalu menghindar.dan hal itu berlangsung hingga semester 8. Dan akhirnya ku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol empat mata
“fi, aku cinta kamu, entah kamu menganggapku hanya sebatas teman atau apalah yang jelas aku cinta kamu, jika kamu menerimaku tunggu aku di kemudian hari ketika aku telah sukses”
Setelah mendapatkan gelar sarjana, ku menjadi guru di daerah kalimantan dan mengembangkan bisnis di sana. Awalnya bisnisku sedikit terlambat karena aku juga melanjutkan gelar magisterku. Gelar magister telah ku raih ku kembangkan bisnis restoranku hingga memiliki 8 cabang di kalimantan dan mau menambahkan 1 cabang di surabaya.
Tujuanku di surabaya tidak hanya untuk meresmikan restoku tetapi juga menemui fifi.
“bagaimana soal jawaban pertanyaanku fi?”
“kamu tahu sendiri al”
“apa kamu benar cinta padaku?”
“iya,makanya saya masih setia menunggumu disini”
Senangnya hati ini mendengarkannya bicara seperti itu, spontan ku memeluknya dan seketika itu pula ku melamarnya dan berharap bahwa esok nanti dia menjadi ibu dari anak anakku.

Previous
This is the oldest page
Thanks for your comment