CERPEN CINTA - "MENGABDI PADA CINTA"



Pagi menjemput,nestapa senja telah sirna .Tetesan embun bergelayut di ujung daun sisa gerimis tadi malam.Selimut rindu telah ku buang bersama bungkusan cinta yang telah sirna.
Tapi satu hal yang tak pernah kulupa waktu itu.......
‘’nak,nanti ibu tidak bisa hadir di wisuda kamu’’
‘’iya gak apa apa kok buk,kan ibu kerja.coba aja kalau ayah masih hidup’’
‘’huzt..udah cepet berangkat nanti terlambat wisuda loh’’.
Ku bergegas menuju SMA-ku dengan mengontel sepeda tua tanpa ada sedikitpun make up di wajahku.Sesampai di sana kulihat semua teman-temanku berdandan rapi bak princess.Acara wisuda berjalan begitu cepat ku tinggalkan teman temanku yang asyik foto bersama keluarganya.
Satu bulan telah berlalu,ku isi semua waktu untuk membantu keluarga dan mengumpulkan recehan untuk membayar uang pendaftaran kuliah.Ku coba berusaha tanpa sepengetahuan ibu karena aku tahu pasti beliau tidak akan setuju bila aku kuliah karna biaya kuliah itu mahal.menjelang pengumuman SNMPTN,ku selalu berdoa,ku serahkan semuanya kepada Tuhan alam semesta tak pernah terselip ucapan kecuali sholawat setiap ku hela nafas dan alhamdulillah saya lulus di sastra indonesia universitas sastra.Tapi aku belum berani terus terang kepada ibu hingga akhirnya saya harus pergi ke jakarta untuk kuliah di sana .
‘’buk,saya di terima di kampus pilihanku’’
‘’kamu ini gimana to nak ,kan kita gak punya biaya’’
‘’aku keterima bidikmisi buk,jadi nanti gak usah bayar’’
‘’ya sudahlah terserah kamu,ibu hanya bisa doain kamu dari rumah’’
‘’iya buk,tunggu kesuksesanku. ibu jaga diri.aku akan kembali ketika telah  sukses’’
Berat rasanya meninggalkan ibu sendirian di rumah tapi inilah jalan kesuksesanku yang harus ku tempuh.
Di universitas sastra aku dapat di kategorikan sebagai mahasiswa yang aktif dan semua kegiatan kampusku berjalan dengan lancar .Namun,akhir-akhir ini aku down karna mendapatkan kabar bahwa ibu sedang sakit di rumah sendirian.akhirnya saya pulang dengan konsekuensi meninggalkan kuliah saya.sesampainya di rumah saya di kagetkan dengan kedatangan Juragan terkaya di kampungku.
‘’eh alya baru pulang ya.sudah siap?’’
‘’maksutnya sudah siap apa ya?’’
‘’tanya aja pada ibu kamu’’cetusnya
‘’gini nak,ibu sudah sakit sakitan lama dan selalu hutang kepada pak tejo buat beli obatnya’’
‘’jadi..?’’bingungku
‘’kamu harus menikah denganku’’sahut Juragan.
Aku pun rela menikah dengan Pak Tejo karna tak mungkin aku bisa membayar semua hutang itu. Yang terpenting bagiku adalah kesehatan ibu karena beliau orang tua satu satunya.Berlimang harta sebagai istri juragan dari perjaka tua itulah yang sekarang ku rasa bukan sebuah pilihan tapi sebuah pembalasan. Ku coba mengikhlaskan tentang apa yang telah terjadi. Selalu ku usahakan untuk menjadi istri yang terbaik bagi suami. Ku layani dan selalu ku turuti apa perintahnya dan keajaiban terjadi setelah beberapa bulan nikah pak tejo atau sekarang yang menjadi suamiku menawarkanku untuk kuliah lagi. Akhirnya saya kuliah hingga mendapatkan gelar magister,menjadi dosen di universitas di kotaku dan penulis di sela selaku menjadi istri serta ibu untuk kedua putra putriku.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment