CERPEN NIAT | KUTIPAN KISAH NYATA SANTRI



“ Al... Al...woi aku udah di depan cepet keluar” teriak Rifan pria muda berwajah tua itu.
” iya bentar An tak sholat dulu” ucapku dalam kamar
Kantuk menemani sholat dua rakaatku kali ini. Air wudhu tak mampu mengetuk selaput mata. Udara sejuk menembus benang sarung yang kendor menarik tubuh ini untuk menjatuhkan diri di pulau kapuk itu. Tanpa berdzikir ku langsung bergegas mengambil Kitab Fathul Qorib 
“ayo an berangkat” sambil ku cincing sarung ini agar lebih mudaah menaiki sepeda
“sholat apa itu kok cepat banget” celoteh Rifan sambil mengayuh sepeda
“ hahaha biasa An, eksekutif” jawabku
Di sepanjang perjalanan seperti biasa ku membahas wanita bersama Rifan, maklum lelaki. Padahal kami menuju ke rumah seorang Kyai untuk mengaji. Tapi niatku tak seutuhnya mengaji. Ada beberapa niat yang terselip diantaranya mencari wanita.
“eh kita telat Al, gara-gara kamu nih kita telat ngajinya” celoteh Rifan ketika sampai di depan mushola Kyai Soleh.
“udah biasa aja an, langsung saja masuk ke mushola” jawabku.
“hehehe emang ini niatku An biar jadi perhatian para santriwati” dalam hatiku.
Kami pun bergegas menuju mushola. Disini santri dan santriwati terpisahkan oleh kain tipis yang mana santri dengan santriwati tidak dapat bertatap muka secara langsung. Cahaya obor menemani ngaji kami bersama dengan embun fajar yang menempel di dinding penyangga atap yang sudah rapuh itu.
“wallahua’lam bishshowab” tanda ngaji hari ini telah usai dan inilah hal yang disukai oleh para santri. Bukan hanya karena sudah tak bertatap muka dengan kitab berkertas kuning itu tapi juga santri dapat menatap langsung aurora alias santriwati secara langsung yang bergiliran keluar dari mushola.
“Al ituloh ada mawar”bilang Rifan mengagetkanku.
“mana an mana” sambilku lihat situasi disekeliling.
“Subhanallah an gak rugi aku ngaji ini mau”
“dasar kau al matamu jelalatan mulu. Apalagi kalo lihat mawar, sadar al sadar” ceramahnya Rifan.
“Astagfirullah an” jawabku meyakinkan Rifan padahal mata ini tak dapat berkedip melihat mawar dengan hijab simple nya itu.
Itulah yang selalu kujalani ketika puasa tiba. Ngaji kitab kuning setelah subuh berangkat terakhir agar jadi pusat perhatian dan selalu menatap 1 wajah yang tak pernah kulepaskan pandanganku padanya.Astagfirullah atau Subhanallah tapi itu yang kuniatkan.



Previous
Next Post »
Thanks for your comment