MA’NA SYAIR ILIR-ILIR KARYA SUNAN KALIJAGA



Halo sahabat semua pernahkah kalian mendengar istilah syair-syair jawa. Pasti dari kalian yang berasal dari Jawa pernah mendengarnya, apalagi semasa duduk di bangku SD pasti kalian pernah diajari tentang tembang-tembang Jawa. Nah, salah satu syair Jawa yang tersohor yaitu syair Ilir-ilir karya salah satu walisongo yaitu Sunan Kalijaga. Pernahkah terbesit dipikiran kalian apa sih arti dari tembang ilir-ilir itu sendiri. Simak penjelasanya dibawah ini.
Syair ilir-ilir adalah syair gubahan dari sunan kalijaga, yang didalamnya terkandung ma’na simbolik yang mengajarkan tentang kearifan tentang tugas dan kewajiban seorang manusia selama ia masih hidup di dunia ini. Berikut adalah syair ilir-ilir :
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo basuh dodotiro. Dodotiro,dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir. Domanono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane , yok sorako, surak iyo.
Yang artinya kurang lebihnya seperti ini :
Bangun, bangunlah, tanaman sudah mengembang, betapa hijau dan subur, seprti penganten baru. Anak gembala, anak gembala, panjatkanlah pohon blimbing itu, meskipun licin panjatlah, untuk membasuh pakaianmu. Pakaianmu, pakaianmu, telah robek di pinggi, jahitlah, sulamlah untuk menghadapi nanti sore. Selagi cerah bulannya, selagi masih luas daratannya, mari bersorak, sorak mari.
Nah, dari syair tersebut kita dapat mengambil kearifan ajaran dari setiap ma’na – ma’na yang terkandung dalam setiap baitnya. Misalnya yaitu pada bait Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno, kanggo basuh dodotiro. dari potongan syair itu kita dapat mengambil hikmah yang intinya, kita hidup di dunia ini hanyalah seorang penggembala / hanya menjadi seorang penjaga dari apa yang tuhan berikan kepada kita, maka terus berusahalah dalam kebaikan meskipun itu berat tetaplah berusaha, karena itu semua untuk kebaik hidupmu. Selanjutnya yaitu dari penggalan Dodotiro,dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir, domanono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore. Dari situ kita dapat mengambil sesuatu yang berharga, kalau misalkan hidup kita sedang hancur, sedang terpuruk maka cepat-cepatlah kita perbaiki dengan melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, itu semua untuk perbekalan kita menghadapi hari yang akan tiba (hari akhir). Dan bait yang terakhir Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane , yok sorako, surak iyo.
Dari bait tersebut kita sebagai pemuda harus tergugah dengan ma’na yang terkandung dalam bait tersebut, dimana kita sebagai manusia yang notabenya masih memiliki perjalanan hidup yang masih panjang haruslah melakukan banyak kebaikan dalam hidup kita mumpung dunia ini masih luas dan masih memiliki banyak waktu.
Mungkin sekian dulu penjelasan sya’ir ilir-ilir dari saya, penjasan dari saya itu tidak mesti benar dan tidak mesti salah, karena pasti ada banyak penjelasan lain yang mungkin berbeda dari penjelasan saya, kalau ada yang kurang silahkan di tambahi di kolom komentar. So, kurang lebihnya saya minta maaf, terimakasih sudah membaca artikel ini dan semoga bermanfaat.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment